Sulit benar membangun kepercayaan, walau untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Ini ceritanya dalam perjalanan tempo hari. Soal lampu rem misalnya. Jika ia menyala, pasti ada ada hambatan di depan. Maka sudah sepantasnya, yang di belakang mengikuti si depan karena depanlah yang tengah menjadi imam, melihat dengan mata kepala sendiri (ainul yaqiin) apa yang terjadi di depannya.
Tapi karena tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu, akulah yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak yang sarat muatan hendak menyeberang. Biarlah ia lewat. Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu merepotkan- dan itu memberatkan dia bolehlah kita beramal walaupun sedikit.
Tapi keputusanku ini ternyata membuat mobil di belakang itu tidak senang. Baru saja aku menginjak rem, klaksonnya sudah menyalak galak bertubi-tubi. Tapi keputusan telah ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati, dia memilih menyalipku daripada ikut berhenti. Maka yang terjadi terjadilah.Ia begitu terkejut, hampir mati ketika becak itu muncul begitu saja di moncong mobilnya. Ia menginjak rem hingga berdecit. Tabrakan keras memang tidak terjadi, tapi sekedar ciuman bumper pun telah membuat sang becak terguling, jika kita bersabar kita tentunya tidak menambah dosa,kita telah bertindak dholin/aniayah, membuat tukang becak menderita. Muatan sayuran yang menggunung berhamburan memenuhi jalan. Kecelakaan itu tidak mengerikan,tetapi sayuran yang bertebaran benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri. Jalanan macet seketika, andaikata ialebih bijak berhentilah paling lama 5detik, karena tidak sabar dia harus berhenti 2jam. Si penyalip mobilku pucat pasi. Ia seorang pria, tampak terpelajar (tapi tidak sabar); saat itu ia berubah menjadi orang yang kelihatan bodoh-oon. Posisi mobilnya secara mencolok memperlihatkan bahwa dialah biang keladi kemacetan ini. Semua pihak kini menudingnya. Dan abang becak yang terkapar itu, entah belajar teori drama dari mana, mulai membangun sensasi. Ia membiarkan saja becaknya terjungkal. Ia sendiri dengan ketenangan seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pria pengemudi dan langsung meninjunya.
Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi. Tapi tak sulit merekonstruksi akhir insiden ini. Betapa tidak enak membayangkan perasaan pengemudi mobil tadi.
Seorang yang tampak terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan dan dipukuli seperti kriminal. Padahal, jika saja ia mau sedikit bersabar, dan terpenting, mau mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini mungkin tidak akan terjadi.
Seperti itulah keadaan di negeriku, orang lain tak pernah dibiarkan menjadi imam, walau ia memang tengah memegang otoritas yang sesungguhnya. Selalu saja ada intervensi. Inilah mengapa kita selalu cenderung membunyikan klakson di saat kita dalam kemacetan. Mengapa dalam hal antri, leher kita cenderung terjulur demikian panjang untuk selalu gatal melihat keadaan di depan. Kita selalu ingin tergesa-gesa, tidak punya kesabaran sedikitpun. Padahal di depan itu sering tidak terjadi apa-apa. Kemacetan itu masih baik-baik saja.
Sekeras apapun klakson yang kita bunyikan, tidak akan mengubah situasi jika saatnya belum tiba. Pada gilirannya, antrian pun pasti akan bergerak maju dengan caranya sendiri. Jika semuanya masih terhenti, pasti karena masih ada persoalan. Biarlah itu persoalan yang di depan. Kita di belakang, tinggal mempercayainya. Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama. Harus ada semacam tebusan sebagai ongkos kepercayaan. Ketidaksabaran membayar ongkos inilah yang membuat hidup bermasyarakat sering dilanda kekacauan.
Para imam, pemimpin, dan pihak yang di depan itu, memang bisa saja menyelewengkan kepercayaan. Kita boleh kecewa tapi tak perlu mendendam. Karena untuk hidup bersama, manusia memang perlu saling mempercayai. Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula. Siapa yang sama sekali bisa membebaskan diri dari nasib sial Rasanya tak ada.
Maka andai saja saat itu dia percaya padaku, pasti tidak dipermalukan sedemikian rupa.
- Umpama dia mau bersabar 3 detik saja, dia tidak akan membuat macet 2 jam,tidak digampar tukang becak, tidak kena tilang,tidak harus mengganti muatan seharga Rp. 600.000, tidak dipelototi pengendara lainnya….dll
- Kesabaran tdk hanya diperlukan dalam berlalu lintas,tetapi juga hidup rumah tangga,sabar jangan emosi setiap menghadapi persoalan,hadapi dengan bijak,proporsional karena persoalan tidak akan selesai hanya dengan marah.apalagi balas dendam,ini adalah salah satu jebakan setan,tiada akhirnya. Akan masuk dosa ke dosa berikutnya.misalnya suami selingkuh dibalas selingkuh, suami marah dibalas marah tidak akan pernah berakhir.
Source: Moch. Rifa’i
0 Responses to “Mencoba lebih bijak & sabar”